Barang Ribawi Definisinya Jenis-Jenisnya dan Pendapat Ulama

Apa itu riba? Menurut bahasa riba adalah ziyadah atau tambahan. Adapun menurut syar’i definisi cukup berbelit karena ia meliputi beberapa transaksi terlarang, sulit disatukan dalam sebuah kalimat yang ringkas tetapi meliputi. Alhasil, definisi yang dapat meliputi semua jenis riba akan panjang. Untuk menghindarinya kita langsung merinci perkara apa saja yang termasuk transaksi ribawi.

Riba dalam jual beli dan riba utang

Ibnu Rusydi, dalam kitab Bidayatul Mujtahid menyatakan, “para Ulama bersepakat bahwa riba terjadi pada 2 hal: dalam jual beli dan utang piutang, baik karena jual beli  dan yang lainnya.”

Dengan kata lain, riba dapat terjadi pada: Pertama, Utang-piutang dalam mu’amalah yang melahirkan kewajiban yang harus dibayarkan oleh satu pihak kepada pihak yang lainnya pada masa yang akan datang; Kedua, tukar menukar barang atau jual beli. Yang pertama dinamakan riba duyun dan yang kedua dinamakan riba buyu’. Duyun adalah bentuk jamak dari kata dain (utang) sedangkan buyu’ adalah bentuk jamak dari kata baii’ (jual beli)

Riba dalam jual beli

ba’i (jual beli) menurut bahasa adalah menukarkan satu barang dengan barang yang lain. Sedangkan menurut syara’ adalah menukarkan harta dengan harta yang lain dengan syarat-syarat yang telah ditetukan oleh syari’at.  Berdasarkan pengertian ini barter juga termasuk dalam jual beli. Riba dalam jual beli terbagi 2 yaitu: Riba fadhlun dan riba nasiah. Riba fadhlun adalh riba yang terjadi karena adanya tambahan dalam pertukaran antar barang yang seharusnya ditukarkan secara semisal (mumatsalah), dengan kata lain terjadi riba karena adanya perbedaan kuantitas dalam pertukaran komoditi tertentu (komoditi ribawi) yang sesama jenis. Riba nasi’ah dalam jual beli adalah pertukaran yang tidak tunai (nasiiatan) di dalam barang ribawi.

Jenis-jenis barang ribawi

Apa itu ribawi? Ribawi adalah barang yang jika diperjual belikan tanpa ada syarat-syarat yang telah ditentukan maka akan terjadi transaksi ribawi.

Rosulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam. Kecuali secara kontan, taqobud dan mumatsalah (sama ukurannya).”

jadi barang ribawi menurut hadits berikut berjumlah 6 yaitu: Emas, perak, gandum, jewawut, kurma dan garam.

Apakah barang ribawi yang hanya disebutkan nabi saja??

Pendapat pertama: Kaum Dzohiriyah mengatakan bahwa barang ribawiyah itu hanya nama-nama yang disebutkan oleh Nabi saja. ini adalah pendapat Ibnu Uqail dari madzhab Hambali.

Pendapat kedua: Bahwasannya barang-barang ribawiyah itu tidak hanya terbatas pada barang-barang yang disebutkan oleh Nabi saja tetapi juga tercakup setiap barang yang memiliki kesmaan sifat dengan barang-barang yang disebutkan oleh Nabi.

Dari pendapat kedua ini para ulama kemudian berbeda pendapat tentang illat (sebab/alasan) barang-barang yang disebutkan Nabi Yaitu, Emas, Perak, Gandum, Jewawut, Kurma dan Garam. Sehingga disebut sebagai barang ribawi.

Perbedaan pendapatnya yaitu:

  • Pendapat pertama: bahwa illat dari emas dan perak adalah ukuran timbangan. adapun barang 4 yang selainnya adalah ukuran takaran. Ini adalah pendapat imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Maka atas dasar pendapat ini maka hukum riba bisa berlaku pada setiap barang yang bisa ditimbang (baik Emas, perak dan yang lainnya) dan setiap barang yang bisa ditakar (baik makanan atau yang lainnya). Atas pendapat ini pula hukum riba berlaku untuk besi. Maka barang siapa yang menukar besi dengan besi haruslah seukuran dan tunai. Menurut pendapat ini pula maka hukum riba berlaku pada kuningan, timah, tembaga dll.
  • Pendapat kedua: Imam Syafi’i berpendapat bahwa illat dari emas dan perak adalah karena keduanya merupakan stadar harga untuk barang yang lainnya (alat tukar). Adapun barang 4 yang lainnya. Maka illatnya adalah jenis makanan.          Berdasarkan pendapat ini maka hukum berlaku untuk:                -Emas dan perak saja. Adapun besi, timah, tembaga dan lainnya tidak.                                                                                                          – Jenis makanan. Maka setiap jenis makanan termasuk barang ribawi, tidak terkait dengan kondisinya yang biasa ditimbang atau ditakar.
  • Pendapat ketiga: Imam Malik berpendapat bahwa illat dari emas dan perak adalah alat tukar adapun 4 barang yang lainnya adalah makanan pokok dan makanan simpanan yaitu makanan sehari-hari dan makanan yang dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. begitu pula gandum, padi, jagung dan jewawut.
  • Pendapat keempat: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapa bahwa emas dan perak adalah alat tukar yaitu barang yang bisa digunakan untuk pembayaran jual beli. Adapun empat barang yang lainya adalah makanan yang biasa ditimbang atau ditakar.

Contoh penukaran antara satu apel dengan dua apel. apakah termasuk riba?

Menurut madzhab Hanafi dan Hambali: tidak berlaku hukum riba karena keduanya bukan barang yang biasa diukur dengan timbangan atau takaran melainkan dengan jumlah atau bilangan.

Menurut madzhab Syafi’i: Berlaku hukum riba karena apel adalah makanan.

Menurut madzhab Imam Malik: Tidak berlaku hukum riba karena apel bukan merupakan makanan pokok yang biasa disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Semoga Bermanfa’at!!

 

Leave a Comment