Riyadloh Malam Senin Hakikat Manusia Di Pandangan Allah Swt

Riyadloh Miftahul Huda II

Malam Senin 08 Juli 2018

Oleh : K.H Agus Malik Annawawi

Allah Swt Berfirman pada surat Faathir ayat 15:

ُيَا أَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ اْلفُقَرَاءِ اِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ اْلغَنِيُّ اْلحَمِيْد

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”

Ayat ini menunjukan pada hakikat manusia dari faqir (butuh) kepada Allah, sebab banyaknya harta benda apabila menyebabkan diri jauh dari Allah Swt apalagi jika merusak pada fikiran dan perasaan, maka harta tersebut tidak ada gunanya sama sekali. Keadaan tersebut lebih parah lagi  jika tidak mempunyai harta benda dan menyebabkan rusaknya fikiran dan perasaan. Ini menunjukan bahwa kaya dan faqir bukan diukur dengan harta benda tapi ukurannya adalah selamat fikiran dan perasaan bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk menandakan bahwa diri masih butuh terhadap Allah Swt.

 

Barang Ribawi Definisinya Jenis-Jenisnya dan Pendapat Ulama

Apa itu riba? Menurut bahasa riba adalah ziyadah atau tambahan. Adapun menurut syar’i definisi cukup berbelit karena ia meliputi beberapa transaksi terlarang, sulit disatukan dalam sebuah kalimat yang ringkas tetapi meliputi. Alhasil, definisi yang dapat meliputi semua jenis riba akan panjang. Untuk menghindarinya kita langsung merinci perkara apa saja yang termasuk transaksi ribawi.

Riba dalam jual beli dan riba utang

Ibnu Rusydi, dalam kitab Bidayatul Mujtahid menyatakan, “para Ulama bersepakat bahwa riba terjadi pada 2 hal: dalam jual beli dan utang piutang, baik karena jual beli  dan yang lainnya.”

Dengan kata lain, riba dapat terjadi pada: Pertama, Utang-piutang dalam mu’amalah yang melahirkan kewajiban yang harus dibayarkan oleh satu pihak kepada pihak yang lainnya pada masa yang akan datang; Kedua, tukar menukar barang atau jual beli. Yang pertama dinamakan riba duyun dan yang kedua dinamakan riba buyu’. Duyun adalah bentuk jamak dari kata dain (utang) sedangkan buyu’ adalah bentuk jamak dari kata baii’ (jual beli)

Riba dalam jual beli

ba’i (jual beli) menurut bahasa adalah menukarkan satu barang dengan barang yang lain. Sedangkan menurut syara’ adalah menukarkan harta dengan harta yang lain dengan syarat-syarat yang telah ditetukan oleh syari’at.  Berdasarkan pengertian ini barter juga termasuk dalam jual beli. Riba dalam jual beli terbagi 2 yaitu: Riba fadhlun dan riba nasiah. Riba fadhlun adalh riba yang terjadi karena adanya tambahan dalam pertukaran antar barang yang seharusnya ditukarkan secara semisal (mumatsalah), dengan kata lain terjadi riba karena adanya perbedaan kuantitas dalam pertukaran komoditi tertentu (komoditi ribawi) yang sesama jenis. Riba nasi’ah dalam jual beli adalah pertukaran yang tidak tunai (nasiiatan) di dalam barang ribawi.

Jenis-jenis barang ribawi

Apa itu ribawi? Ribawi adalah barang yang jika diperjual belikan tanpa ada syarat-syarat yang telah ditentukan maka akan terjadi transaksi ribawi.

Rosulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam. Kecuali secara kontan, taqobud dan mumatsalah (sama ukurannya).”

jadi barang ribawi menurut hadits berikut berjumlah 6 yaitu: Emas, perak, gandum, jewawut, kurma dan garam.

Apakah barang ribawi yang hanya disebutkan nabi saja??

Pendapat pertama: Kaum Dzohiriyah mengatakan bahwa barang ribawiyah itu hanya nama-nama yang disebutkan oleh Nabi saja. ini adalah pendapat Ibnu Uqail dari madzhab Hambali.

Pendapat kedua: Bahwasannya barang-barang ribawiyah itu tidak hanya terbatas pada barang-barang yang disebutkan oleh Nabi saja tetapi juga tercakup setiap barang yang memiliki kesmaan sifat dengan barang-barang yang disebutkan oleh Nabi.

Dari pendapat kedua ini para ulama kemudian berbeda pendapat tentang illat (sebab/alasan) barang-barang yang disebutkan Nabi Yaitu, Emas, Perak, Gandum, Jewawut, Kurma dan Garam. Sehingga disebut sebagai barang ribawi.

Perbedaan pendapatnya yaitu:

  • Pendapat pertama: bahwa illat dari emas dan perak adalah ukuran timbangan. adapun barang 4 yang selainnya adalah ukuran takaran. Ini adalah pendapat imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Maka atas dasar pendapat ini maka hukum riba bisa berlaku pada setiap barang yang bisa ditimbang (baik Emas, perak dan yang lainnya) dan setiap barang yang bisa ditakar (baik makanan atau yang lainnya). Atas pendapat ini pula hukum riba berlaku untuk besi. Maka barang siapa yang menukar besi dengan besi haruslah seukuran dan tunai. Menurut pendapat ini pula maka hukum riba berlaku pada kuningan, timah, tembaga dll.
  • Pendapat kedua: Imam Syafi’i berpendapat bahwa illat dari emas dan perak adalah karena keduanya merupakan stadar harga untuk barang yang lainnya (alat tukar). Adapun barang 4 yang lainnya. Maka illatnya adalah jenis makanan.          Berdasarkan pendapat ini maka hukum berlaku untuk:                -Emas dan perak saja. Adapun besi, timah, tembaga dan lainnya tidak.                                                                                                          – Jenis makanan. Maka setiap jenis makanan termasuk barang ribawi, tidak terkait dengan kondisinya yang biasa ditimbang atau ditakar.
  • Pendapat ketiga: Imam Malik berpendapat bahwa illat dari emas dan perak adalah alat tukar adapun 4 barang yang lainnya adalah makanan pokok dan makanan simpanan yaitu makanan sehari-hari dan makanan yang dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. begitu pula gandum, padi, jagung dan jewawut.
  • Pendapat keempat: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapa bahwa emas dan perak adalah alat tukar yaitu barang yang bisa digunakan untuk pembayaran jual beli. Adapun empat barang yang lainya adalah makanan yang biasa ditimbang atau ditakar.

Contoh penukaran antara satu apel dengan dua apel. apakah termasuk riba?

Menurut madzhab Hanafi dan Hambali: tidak berlaku hukum riba karena keduanya bukan barang yang biasa diukur dengan timbangan atau takaran melainkan dengan jumlah atau bilangan.

Menurut madzhab Syafi’i: Berlaku hukum riba karena apel adalah makanan.

Menurut madzhab Imam Malik: Tidak berlaku hukum riba karena apel bukan merupakan makanan pokok yang biasa disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Semoga Bermanfa’at!!

 

Riadoh Malam Senin 5 Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Keturunan Kita

Riyadloh : Malam Senin
Edisi : 1 Juli 2018/ 17 Syawal 1439
Oleh : KH. NoNop Hanafi
بسم اللّٰه الرحمن الرحيم
Setiap manusia mukmin harus merasa gelisah ketika mengingat nasib keturunannya, membaca kondisi tantangan zaman yang demikian dahsyat membawa manusia pada jurang kemaksiatan. Makanya Allah berfirman dalam surat An Nisa ayat 9 :
وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم
Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka”.
Ada beberapa hal yang harus dikhawatirkan dari keturunan kita :
١. ضعف الإيمان
Lemah Imannya.
٢. ضعف العلم
Lemah Ilmu dan wawasannya.
٣. ضعف الجسد
Lemah fisiknya.
٤. ضعف المال
Lemah ekonominya.
٥. ضعف الأخوة
Lemah persaudaraannya.
Sedangkan solusi agar keturunan kita keluar dari zona kelemahan-kelemahan tadi, maka dekatkan mereka dengan pendidikan, gaulkan mereka dengan Al Qur’an, dan kenalkan mereka dengan para Ulama.

Foto Miftahul Huda II.

Nama-Nama Syaitan dan Tugasnya Yang Harus Kita Ketahui

Nama-nama Syaitan- 

Diantara jalan menuju kesuksesan dunia dan akhirat yang saya dengar dari tausyiah kemarin ketika haul adalah:

  1. Syahadat kita harus ditambah kekuatannya dengan thlolabul ilmi. Karena tanpa adanya ilmu amal kita semuanya akan ditolak.
  2.  Perbanyaklah dzikir kepada Allah Swt.
  3. Lawanlah hawa nafsu dan syaitan, karena melawan hawa nafsu merupakan jihad yang besar dibandingkan dengan yang lainnya ini sesuai dengan perkataan Rosulullah ketika pulang dari perang badar beliau mengatakan “Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar” sahabat kebingungan kenapa rosul berkata seperti itu padahal perang badar merupakan perang besar dikarenakan pasukan muslim yang hanya 315 orang harus melawan 1000  lebih pasukan kafir, lalu mereka pun bertanya “Apa itu jiad yang besar?”  Rosul menjawab “Melawan hawa nafsu”. Dan memang sudah kita rasakan semua itu.

Inilah nama-nama syaitan yang diambil dari beberapa sumber:

  • Laqnis, tugasnya adalah mengganggu orang yang bersuci dan berwudhu sehingga jadi ragu dan tidak sempurna. Pernahkan seperti ini? Jujur saya pernah. hehehe
  • Masud, tugasnya yaitu menyuruh manusia selalu mengumpat, fitnah dan adu domba, suka berdendam sesama manusia. Kalau yang ini mungkin jarang ganggu ke laki-laki seringnya ke perempuan. Betul?
  • Abyadh, Inilah jenis syaitan yang paling berat godaannya, paling buruk sikapnya, karena tugasnya ialah menggoda para nabi dan rosul yang diutus kepada manusia. Yang ini mah gak bakalan pernah ganggu kita. hehehhe.
  • Khinzab, Tugasnya megganggu orang yang beribadah dengan membuat manusia merasa was was dengan amalan baik yang dilakukannya dan senantiasa coba meruntuhkan keyakinan terhadap agama islam yang dianutnya.
  • Watin, tugasnya mendekati orang yang sedang ditimpa musibah agar bersangka buruk kepada Allah Swt.
  • Walahan, Tugasnya menimbulkan rasa was was ketika beribadah khususnya orang yang sedang mengambil wudhu.
  • Zalitun, tugasnya menyuruh manusia gemar boros berbelanja, tanpa batasan dan fikirannya hanya ingat pada makan dan makanan. Hayoo siapa yang boros belanja?
  • A’awar tugasnya menggoda raja dan orang besar agar dzalim, rasa takabur dengan jabatan, membiarkan rakyat tanpa dibela dan tidak suka mendengar nasihat ulama. Menghias perempuan agar lelaki segera tergoda dan menggoda wanita agar mendekati lelaki yang dilihat menarik. Wah tugasnya banyak juga ya pasti dia sibuk. wkwkwk
  • Dassim, tugasnya memecah belah hubungan suami istri agar suka bertengkar dan bercerai. menyuruh manusia marah bukan pada tempatnya juga menampakkan kekurangan kakak beradik sehingga mudah bertengkar dan bermasam muka. Yang jomblo mah gak bakalan diganggu si dasim hahahhaa.
  • Sabrum tugasnya mengajak manusia ke jalan yang jahat dan tidak sabar dengan ujian yang diterima, umpamanya mengoyak-ngoyak baju pada saat kematian ahli keluarga dan sebagainya.
  • Miswat/ Maswat tugasnya mempercepat manusia untuk berbuat maksiat, di samping melengah-lengahkan berbuat taat dan amal solih. Ia gemar membawa berita dusta dan gosip liar.
  • Lakhus tugasnya mengajak manusia agar menyembah selain kepada Allah Swt.
  • Khannas Inilah Syaitan yang menimbulkan was was hati terhadap adanya Allah Swt, adanya perkara-perkara sam’iyyat dan malalaikan hati manusia dari mengingat Tuhannya sepanjang masa. Astaghfirullah semoga kita terbebas dari godaan syaitan.
  • Zaktabur/ Zaknabur/ Zalanbur, tugasnya ialah menimbulkan rasa ujub dan takabur dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya.
  • Haffaf, tugasnya adalah mengajak manusia berbuat maksiat, suka minum Khamar dan berfoya-foya.

Itulah nama-nama  syaitan. semoga kita terbebas dari godaan syaitan yang terkutuk. Aamiin. Semoga bermanfa’at.

Definisi Ateis Sejarah dan Beberapa Kisahnya Di Indonesia

Definisi ateis sejarah dan beberapa kisahnya-

Bismilahirrohmanirrohim. Sekarang saya akan menjelaskan tentang ateis. apa itu ateis? ateis adalah sebuah singkatan dari a nya anti, teo (tuhan) dan is adalah sebuah imbuhan untuk sebuah istilah. Jadi ateis adalah anti tuhan atau orang-orang yang tidak percaya adanya tuhan.

Sejarah Ateis

Ateis adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai tuhan dan dewa-dewi. ORang yang pertama kali mengaku sebagai ateis muncul pada abad ke 18. pada zaman sekarang ini, sekitar 2,3 % populasi dunia mengaku sebagai ateis, manakala 11,9% mengaku sebagai nonteis. sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai ateis, agnostik ataupun orang yang tidak beragama dan sekitar 48%nya di Rusia. Presentasi komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (swedia).

Kisah dan hikmahnya

Seorang profesor yang Atheis berbicara dalam sebuah kelas fizik.

Profesor: “Apakah Allah menciptakan segala yang ada?”

Para mahasiswa: “Betul! Dia pencipta segalanya.”

Profesor: “Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan.”

(Semua terdiam. Agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).

Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa: “Prof! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?”

Profesor: “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja, dingin itu ada.”

Mahasiswa: “Prof! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fizik, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas.

Suhu -460 degree Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak boleh bertindak pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mengungkapkan ketiadaan panas ya.

Selanjutnya! Apakah gelap itu ada?”

Profesor: “Tentu saja ada!”

Mahasiswa: “Anda salah lagi Prof! Gelap juga tidak ada.

Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya boleh kita pelajari. Sedangkan gelap tidak boleh.

Kita boleh menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna.

Tapi! Anda tidak boleh mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensiti cahaya di ruangan itu.

Kata ‘gelap’ dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.

Jadi! Apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?”

Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga: “Tentu saja ada.”

Mahasiswa: “Sekali lagi anda salah Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga.

Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya.

Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia.”

Profesor terpaku dan terdiam!

Dosa terjadi kerana manusia lupa hadirkan Allah dalam hatinya..

Hadirkan Allah dalam hati pada setiap saat, maka akan selamatlah diri kita..

Itulah IMAN..

SESUNGGUHNYA DOSA ITU LAHIR SAAT IMAN TIDAK HADIR DALAM HATI KITA..

Foto Guruku Kyai Bukan Mbah Google.

Panduan Zakat Fitrah Sesuai Sunnah Beserta Dalil dan Pengertiannya

Panduan Zakat Fitrah

Panduan Zakat Fitrah – Zakat secara bahasa adalah annama’u yang artinya berkembang atau azziyadah artinya tambah, menjernihkan sesuatu yang dikeluarkan dari diri dari pemilik untuk menyucikan dirinya.

Fithri berasal dari kata ifthar artinya berbuka/ tidak berpuasa. zakat disandarkan pada kata fithri karena fithri adalah sebab dikeluarkannya zakat.

Ada bebrapa hikmah disyari’atkannya zakat diantaranya:

  1. untuk berkasih sayang dengan orang-orang miskin, yaitu supaya mereka sama-sama bisa merayakan hari kebesaran islam dengan tanpa meminta-minta.
  2. memberikan rasa suka cita kepada orang-orang miskin, supaya mereka bisa berbahagia pada hari kemenangan.
  3. membersihkan kesalahan orang-orang yang menjalankan puasa akibat kata-kata yang kotor dan tiada artinya.

Hukum zakat fitrah

Panduan Zakat Fitrah

zakat fitrah adalah shodaqoh wajib yang harus dekeluarkan oleh orang-orang muslim untuk membersihkan dirinya dari kesalahan-kesalahan selama romadhon. Ishaq bin rohuyah menyatakan bahwa wajibnya zakat fitrah seperti ada ijma’ (kesepakatan ulama). dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ibnu umar. Ia berkata :

 ْفَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “زَكَاةُ اْلفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ , اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى اْلعَبْدِ وَاْلحُرِّ , وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى , وَالصَّغِيْرِ وَاْلكَبِيْرِ مِنَ اْلمُسْلِميْنَ وَاَمَرَ بِهَا اَن

     “تُؤَدِّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ اِلَى الصَّلاَة

Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada setiap abid atau orang merdeka laki-laki dan perempuan anak kecil atau orang dewasa dari orang-orang muslim. Dan Rasul memerintah mengeluarkan zakat tersebut sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan sholat ied.

Perlu diperhatikan ada kata shogir (anak kecil) itu bukan termasuk janin. karena ada sebagian ulama yang berpendapat seperti Ibnu Hazm yang mengataka bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini kurang tepat karena janin tidak termasuk dalam kata shogir dalam bahasa arab.

Yang wajib mengeluarkan zakat

Zakat fitrah wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim dan yang mampu mengeluarkannya. Siapakah yang disebut orang yang mampu? Mayoritas ulama menjelaskan bahwa batasan mampu di sini adalah orang yang mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ied. Jadi orang yang seperti ini dikatakan orang yang mampu bukan hanya orang yang kaya saja. Sebagaimana sabda Rasullullah Saw:

“Barang siapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api. “Mereka berkata,”Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut? “Rasulullah Saw bersabda, “Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari semalam.”

Dari penjelasan di atas menunjukan bahwa kepala keluarga wajib membayar zakat fitrah orang yang ia tangggung nafkahnya seperti anak istri. Menurut Imam malik, Ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, suami bertanggung jawab terhadap zakat fitrah si istri dan anak karena mereka wajib dinafkahi oleh sang suami.

Ukuran zakat fitrah

Para ulama sepakat bahwa kadar wajib zakat fitrah adalah satu sha’ dari semua bentuk zakat fitrah kecuali qomh (gandum) dan zabib (kismis) sebagian ulama membolehkan dengan setengah sha’ dalil dari hal ini adalah hadits Ibnu Umar yang telah disebutkan bahwa zakat fitrah itu satu sha’ kurma atau gandum. Dalil lainnya adalah dari Abu Sa’id Al Khudri Radiyallahu ‘anhu, ia mengatakan:

ٍكُنَّا نُعْطِيْهَا فِي زَمَنِ النَّبِي صَاعُا مِنْ طَعَامٍ , اَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْب

“Dahulu di zaman Nabi Saw kami menunaikan zakat fitrah berupa satu sha’ bahan makanan, satu sha’ kurma, satu sha’ gandum atau satu sha’ kismis”.

Satu sha’ adalah ukuran yang ada pada zaman nabi Saw. Para Ulama berselisih pendapat bagaimanakah ukuran takaran ini. Lalu mereka berselisih lagi bagaimanakah ukuran timbangannya. satu sha’ dari semua jenis ini adalah seukuran 4 cakupan penuh tangan yang sedang. Ukuran satu sha’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg. Ulama lainnya mengatakan bahwa satu sha’ kira-kira 2,157 kg. Itu artinya jika zakat fitrah ini dekeluarkan 2,5 kg, sudah mencukupi dan dianggap sah.

Bolehkah menunaikan zakat fitrah dengan uang